HUBUNGAN ANTARA STUNTING DENGAN PERKEMBANGAN BALITA USIA 24–60 BULAN PADA LEVEL KOMUNITAS POSYANDU

Authors

  • Vika Clara Alverina Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang
  • Duhita Dyah Apsari Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang

DOI:

https://doi.org/10.58794/jubida.v5i1.1962

Keywords:

Balita, Stunting, Perkembangan

Abstract

Masalah gangguan tumbuh kembang di Indonesia adalah isu kesehatan yang tidak bisa diabaikan. Masa balita merupakan periode emas yang menentukan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan kesejahteraan sepanjang siklus kehidupan. Pada masa ini, kebutuhan gizi yang cukup serta stimulasi perkembangan yang tepat menjadi pilar utama pertumbuhan dan perkembangan anak. Kekurangan gizi dan rendahnya kesadaran orang tua terhadap deteksi dini tumbuh kembang masih menjadi penyebab utama gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak di Indonesia. Penelitian ini menawarkan novelty melalui integrasi data antropometri dan skrining perkembangan dalam satu analisis komunitas mikro (RW), pemetaan risiko stunting dengan perkembangan pada level layanan primer (Posyandu), serta pengembangan model deteksi dini terpadu berbasis Posyandu untuk mendukung intervensi kesehatan masyarakat yang lebih efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara stunting dan perkembangan balita usia 24–60 bulan di RW 01 Desa Kalisongo Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran tinggi badan serta skrining perkembangan menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih ditemukan balita stunting sebanyak 18,7% dan perkembangan belum sesuai usia sebanyak 12,5%. Outcome utama penelitian ini adalah risk association antara stunting dan keterlambatan perkembangan, dengan hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna (p < 0,05), dimana balita dengan stunting memiliki risiko lebih tinggi (odds ratio yang signifikan) mengalami keterlambatan perkembangan dibandingkan dengan balita yang memiliki status gizi normal. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian pada 5 dari 6 anak yang mengalami stunting memiliki perkembangan yang belum sesuai dengan usianya. Sehingga perlunya memperkuat kegiatan pemantauan tumbuh kembang serta meningkatkan edukasi kepada orang tua mengenai pentingnya gizi seimbang, stimulasi perkembangan anak sesuai usia serta pemantauan rutin ke posyandu.

Views

54 kali

Downloads

8 kali

Author Biography

Duhita Dyah Apsari, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang

Sarjana Terapan Kebidanan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang

References

[1] N. Khofiyah, “Edukasi Berpengaruh terhadap Pemberian Stimulasi Perkembangan Anak Usia 12-24 Bulan oleh Ibu di Posyandu Desa Tambakrejo Kabupaten Puworejo,” Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery), vol. 7, no. 2, hlm. 231–238, Agu 2020, doi: 10.26699/jnk.v7i2.art.p231-238.

[2] UNICEF, The State of Food Security and Nutrition in the World 2023. FAO; IFAD; UNICEF; WFP; WHO; , 2023. doi: 10.4060/cc3017en.

[3] B. Kebijakan, P. Kesehatan, dan K. K. Ri, “BUKU SAKU Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022.”

[4] Dinkes, “Data Stunting Menurut Kategori Di Puskesmas Kabupaten Malang 2023,” Yuningsih, Zannah, Sari, & Handayani. (2024). The Relationship Between Nutritional Status And The Development Of Children Aged 4-60 Months.

[5] L. Hartati1, A. Wahyuningsih2, D. Diii, K. Stikes, dan M. Klaten, “Hubungan Kejadian Stunting dengan Perkembangan Anak Usia 24-59 Bulan di Desa Wangen Polanharjo,” 2021.

[6] WHO, “Caring for children with Developmental delay – Reaching the vulnerable,” https://www.who.int/srilanka/news/detail/01-10-2023-caring-for-children-with-developmental-delay-reaching-the-vulnerable?utm_source=chatgpt.com.

[7] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia and Ikatan Dokter Anak Indonesia, Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar, Edisi Revisi 23082022. Jakarta: Kemenkes RI, 2022.

[8] A. Kirolos dkk., “Neurodevelopmental, cognitive, behavioural and mental health impairments following childhood malnutrition: A systematic review,” 1 Juli 2022, BMJ Publishing Group. doi: 10.1136/bmjgh-2022-009330.

[9] A. Suryawan dkk., “Malnutrition in early life and its neurodevelopmental and cognitive consequences: a scoping review,” 8 Juni 2022, Cambridge University Press. doi: 10.1017/S0954422421000159.

[10] B. Kebijakan Pembangunan, K. Kementerian, dan K. Ri, “Dalam Angka Tim Penyusun Ski 2023 Dalam Angka Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.”

[11] M. EL Hioui, “Malnutrition and Brain Function,” International Journal of Clinical Case Reports and Reviews, vol. 27, no. 05, hlm. 01–03, Jul 2025, doi: 10.31579/2690-4861/895.

Downloads

Published

2026-05-08

Issue

Section

Articles