Aktivitas Antibakteri Gel Kombinasi Lidah Buaya dan Minyak Atsiri Jahe Merah terhadap Bakteri Staphulococcus aureus

Authors

  • Yan Hendrika Universitas Abdurrab
  • Isna Wardaniati Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan, Universitas Abdurrab
  • Raisa Masevani Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan, Universitas Abdurrab

DOI:

https://doi.org/10.58794/jfarm.v4i1.1983

Keywords:

Lidah buaya, minyak atsiri, jahe merah, jerawat, gel

Abstract

Lidah buaya (Aloe vera) diketahui memiliki aktivitas antibakteri, demikian pula jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) yang menghasilkan minyak atsiri dengan potensi serupa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus serta karakteristik fisik dari sediaan gel anti jerawat kombinasi lidah buaya dan minyak atsiri jahe merah. Metode penelitian meliputi pembuatan gel lidah buaya, formulasi dalam tiga konsentrasi yaitu F1 (lidah buaya 10% : minyak atsiri jahe merah 10%), F2 (20% : 10%), dan F3 (10% : 20%), diikuti evaluasi fisik serta uji antibakteri menggunakan metode sumuran. Hasil evaluasi menunjukkan gel berwarna kuning, beraroma khas jahe, memiliki pH sesuai persyaratan, daya sebar 5–7 cm, dan viskositas antara 9.390–17.922 cPs. Uji antibakteri menunjukkan semua formula memiliki aktivitas kuat terhadap S. aureus dengan diameter zona hambat sekitar 10,06 mm. Kombinasi kedua bahan menunjukkan potensi sebagai sediaan gel anti jerawat alami.

 

References

Agusta, A. (2000). Minyak atsiri tumbuhan tropika Indonesia. Yogyakarta: Trubus Agriwidya.

Widyastuti, Y., et al. (2016). Lidah buaya (Aloe vera) sebagai tanaman obat tradisional. Jurnal Farmasi Tradisional Indonesia, 5(2), 67-74.

Suryati Noya. (2017). Pemanfaatan gel lidah buaya dalam sediaan kosmetik. Jurnal Kosmetik dan Farmasi Indonesia, 8(1), 12-18.

Dewi, S., & Marniza. (2019). Aktivitas antibakteri gel lidah buaya (Aloe vera) terhadap Staphylococcus aureus. Jurnal Farmasi Indonesia, 16(2), 78-85.

Kibret, M., et al. (2018). Antibacterial activity of anthraquinone derivatives from Aloe vera. Journal of Pharmacy and Pharmacology, 70(4), 456-463.

Viki. (2020). Pengaruh ekstrak daun lidah buaya terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus kategori kuat (80-100%). Jurnal Kesehatan Masyarakat, 17(1), 34-41.

Yunpayani, & Mulyani. (2023). Kandungan minyak atsiri lebih tinggi pada jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum). Jurnal Ilmu Tanaman Obat Indonesia, 9(1), 45-52.

Sivasothy, Y., Chong, W.K., Hamid, A., Eldeen, I.M., Sulaiman, S.F., & Awang, K. (2011). Essential oils of Zingiber officinale var. rubrum Theilade and their antibacterial activities. Food Chemistry, 124(2), 514-517.

Lely, et al. (2016). Uji aktivitas antibakteri minyak atsiri jahe merah terhadap Staphylococcus aureus. Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia, 3(2), 67-74.

Cintami, N. (2017). Pemanfaatan minyak jahe merah untuk perawatan kulit berjerawat. Jurnal Kesehatan dan Kecantikan, 5(1), 23-29.

Arikumalasari, N., et al. (2018). Formulasi gel anti jerawat berbasis bahan alami. Jurnal Farmasi Indonesia, 14(2), 45-52.

Yasir, et al. (2020). Evaluasi fisik gel topikal untuk pengobatan jerawat. Jurnal Farmasi Galenika, 6(3), 123-130.

Rahayu, S.R., et al. (2022). Klasifikasi kategori zona hambat antibakteri menggunakan metode difusi sumuran. Jurnal Mikrobiologi Klinik Indonesia, 28(4), 201-208.

Lumentut, N., Edi, H.J., & Rumondor, E.M. (2020). Formulasi dan uji stabilitas fisik sediaan krim ekstrak etanol kulit buah pisang Goroho (Musa acuminata L.) konsentrasi 12,5% sebagai tabir surya. Jurnal MIPA, 9(2), 42-49.

Tambunan, et al. (2018). Rentang konsentrasi HPMC 2-10% sebagai gelling agent optimal. Jurnal Teknologi Farmasi Indonesia, 14(2), 56-62.

Iskandar, B., Dian, Z.P., Renovita, F., & Leny. (2021). Formulasi dan evaluasi gel lidah buaya sebagai pelembab kulit. Health Science and Pharmacy Journal, 3(1), 34-40.

Forestryana, D., Fahmi, M.S., & Putri, A.N. (2020). Pengaruh jenis dan konsentrasi gelling agent pada karakteristik formula gel antiseptik ekstrak etanol 70% kulit buah pisang Ambon. Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian, 1(2), 45-52.

Pramuji Afianti, H., & Murrukmihadi, M. (2015). Pengaruh variasi kadar gelling agent HPMC terhadap sifat fisik dan aktivitas antibakteri sediaan gel ekstrak etanolik daun kemangi. Jurnal Farmasi, 11(2), 307-314.

Sri Resti Rahayu, et al. (2022). Kategori zona hambat: lemah ≤5 mm, sedang 6-10 mm, kuat 11-20 mm, sangat kuat ≥21 mm. Jurnal Farmasi dan Farmakologi Indonesia, 19(3), 145-152.

Damayanti, N., & Septiani, J. (2022). Pengaruh konsentrasi minyak atsiri terhadap karakteristik fisik gel. Jurnal Farmasi Klinik, 18(3), 112-120.

Nursal, et al. (2006). Senyawa antimikroba dari rimpang jahe-jahean (Zingiberaceae). Jurnal Farmasi Indonesia, 12(1), 15-22.

Jufri, M., et al. (2020). Evaluasi pH sediaan gel topikal dan pengaruhnya terhadap iritasi kulit. Jurnal Kefarmasian Indonesia, 15(2), 89-96.

BPOM. (2019). Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2019 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik. Jakarta: BPOM RI.

Downloads

Published

2026-02-18

Issue

Section

Articles