Penyuluhan Partisipatif dan Pendampingan Berbasis Masyarakat untuk Meningkatkan Vaksinasi Sapi terhadap Penyakit Jembrana dan PMK di Desa Labboto dan Cakkaware
DOI:
https://doi.org/10.58794/jdt.v6i2.2405Keywords:
Penyakit Jembrana, PMK, Vaksinasi Sapi, Livestock Extension, Community Engagement, Animal Disease ControlAbstract
Penyakit Jembrana dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) mengancam kesehatan sapi dan keberlanjutan pendapatan peternak rakyat. Pengabdian masyarakat ini mengintegrasikan penyuluhan peternakan partisipatif dan pendampingan lapangan berbasis masyarakat di Desa Labboto dan Desa Cakkaware, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Bone. Kegiatan bertujuan memperkuat pemahaman, penerimaan, dan partisipasi peternak dalam vaksinasi sapi. Pelaksanaan dilakukan pada 6 Februari 2026 dengan 43 peserta di Labboto dan 52 peserta di Cakkaware menggunakan presentasi, video, diskusi interaktif, dan pendampingan vaksinasi langsung. Kinerja program dievaluasi secara deskriptif menggunakan daftar hadir, observasi naratif, data vaksinasi desa yang diverifikasi silang pada 24 Januari 2026 sebagai baseline dan 8 Februari 2026 atau dua hari setelah kegiatan, serta laporan pasif kejadian penyakit. Indikator pemahaman kualitatif terlihat dari respons peserta ketika membedakan gejala utama, jalur penularan, dan manfaat vaksinasi; indikator perilaku meliputi keterlibatan aktif, berkurangnya penolakan awal, dan kesediaan membawa sapi untuk divaksinasi. Karena pre-test dan post-test tertulis tidak dilaksanakan, peningkatan pengetahuan tidak dinyatakan secara kuantitatif. Jumlah sapi yang divaksin meningkat dari 24 menjadi 87 ekor di Labboto (262,5%) dan dari 29 menjadi 103 ekor di Cakkaware (255,2%); secara keseluruhan meningkat dari 53 menjadi 190 ekor (258,5%). Persentase tersebut merupakan peningkatan relatif terhadap baseline, bukan cakupan vaksinasi populasi. Tidak terdapat kasus baru yang terlapor melalui sistem pelaporan pasif yang tersedia, tetapi periode pemantauannya belum dibakukan. Peningkatan segera setelah kegiatan menunjukkan bertambahnya partisipasi vaksinasi, tetapi desain deskriptif, tidak adanya kelompok pembanding, dan pendeknya interval pengamatan tidak memungkinkan penarikan kesimpulan kausal maupun efektivitas jangka panjang.
Views
Downloads
Downloads
References
[1] World Organisation for Animal Health, “Foot and mouth disease,” WOAH. [Online]. Available: https://www.woah.org/en/disease/foot-and-mouth-disease/. [Accessed: Jul. 6, 2026].
[2] World Organisation for Animal Health, “Foot and mouth disease (infection with foot and mouth disease virus),” in Manual of Diagnostic Tests and Vaccines for Terrestrial Animals, ch. 3.1.8, 2022.
[3] M. J. Grubman and B. Baxt, “Foot-and-mouth disease,” Clinical Microbiology Reviews, vol. 17, no. 2, pp. 465–493, 2004, doi: 10.1128/CMR.17.2.465-493.2004.
[4] N. Longjam, R. Deb, A. K. Sarmah, T. Tayo, V. B. Awachat, and V. K. Saxena, “A brief review on diagnosis of foot-and-mouth disease of livestock: Conventional to molecular tools,” Veterinary Medicine International, vol. 2011, Art. no. 905768, 2011, doi: 10.4061/2011/905768.
[5] D. J. Paton, S. Gubbins, and D. P. King, “Understanding the transmission of foot-and-mouth disease virus at different scales,” Current Opinion in Virology, vol. 28, pp. 85–91, 2018, doi: 10.1016/j.coviro.2017.11.013.
[6] T. J. D. Knight-Jones and J. Rushton, “The economic impacts of foot and mouth disease—what are they, how big are they and where do they occur?” Preventive Veterinary Medicine, vol. 112, nos. 3–4, pp. 161–173, 2013, doi: 10.1016/j.prevetmed.2013.07.013.
[7] D. J. Paton, K. J. Sumption, and B. Charleston, “Options for control of foot-and-mouth disease: Knowledge, capability and policy,” Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences, vol. 364, no. 1530, pp. 2657–2667, 2009, doi: 10.1098/rstb.2009.0100.
[8] R. K. Singh et al., “Foot-and-mouth disease virus: Immunobiology, advances in vaccines and vaccination strategies addressing vaccine failures—an Indian perspective,” Vaccines, vol. 7, no. 3, Art. no. 90, 2019, doi: 10.3390/vaccines7030090.
[9] M. A. Rahman, F. Zereen, M. L. Rana, M. G. Hossain, M. Shimada, and S. Saha, “Foot-and-mouth disease in Asia,” Virus Research, vol. 351, Art. no. 199514, 2025, doi: 10.1016/j.virusres.2024.199514.
[10] D. K. Meles et al., “Jembrana disease in Indonesia: An updated review,” Open Veterinary Journal, vol. 15, no. 3, pp. 1091–1100, 2025, doi: 10.5455/OVJ.2025.v15.i3.3.
[11] G. E. Wilcox, B. J. Chadwick, and G. Kertayadnya, “Recent advances in the understanding of Jembrana disease,” Veterinary Microbiology, vol. 46, nos. 1–3, pp. 249–255, 1995, doi: 10.1016/0378-1135(95)00089-S.
[12] S. Soeharsono et al., “The transmission of Jembrana disease, a lentivirus disease of Bos javanicus cattle,” Epidemiology and Infection, vol. 115, no. 2, pp. 367–374, 1995.
[13] B. J. Chadwick, R. J. Coelen, G. E. Wilcox, L. M. Sammels, and G. Kertayadnya, “Nucleotide sequence analysis of Jembrana disease virus: A bovine lentivirus associated with an acute disease syndrome,” Journal of General Virology, vol. 76, no. 7, pp. 1637–1650, 1995, doi: 10.1099/0022-1317-76-7-1637.
[14] W. G. F. Ditcham, J. R. Lewis, R. J. Dobson, N. Hartaningsih, G. E. Wilcox, and M. Desport, “Vaccination reduces the viral load and the risk of transmission of Jembrana disease virus in Bali cattle,” Virology, vol. 386, no. 2, pp. 317–324, 2009, doi: 10.1016/j.virol.2009.02.008.
[15] J. Firison, A. Salim, Sudarmansyah, Alfayanti, E. Fauzi, Afrizon, and A. Ishak, “Analisis penyebab penyakit Jembrana pada sapi Bali dan upaya pencegahannya,” AGRITEPA: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, vol. 9, no. 2, pp. 403–410, 2022, doi: 10.37676/agritepa.v9i2.1380.
[16] W. Kamalasari, F. Ardhani, and F. Juita, “Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan peternak dalam melakukan program vaksinasi Jembrana pada sapi Bali,” Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis, vol. 2, no. 1, pp. 50–62, 2019, doi: 10.30872/jpltrop.v2i1.2643.
[17] R. Agustiar, A. Triatmojo, A. Agus, and B. Guntoro, “Livestock disease vaccination in rural Indonesia: A study on communication strategies and community participation,” Buletin Peternakan, vol. 50, no. 1, pp. 42–53, 2026, doi: 10.21059/buletinpeternak.v50i1.111049.
[18] Kementerian Pertanian Republik Indonesia, “Kementan gelar akselerasi vaksinasi PMK, distribusikan 151 ribu dosis vaksin,” Feb. 6, 2026. [Online]. Available: https://bpmsph.ditjenpkh.pertanian.go.id/berita/kementan-gelar-akselerasi-vaksinasi-pmk-distribusikan-151-ribu-dosis-vaksin. [Accessed: Jul. 6, 2026].
[19] World Organisation for Animal Health, SEACFMD Bulletin: January–December 2024. Bangkok, Thailand: WOAH Regional Representation for Asia and the Pacific, 2025. [Online]. Available: https://rr-asia.woah.org/app/uploads/2025/04/2024-full-year-bulletin-1.pdf. [Accessed: Jul. 13, 2026].
[20] Balai Veteriner Subang, “Sulsel dapat alokasi 23 ribu vaksin PMK,” Jan. 29, 2025. [Online]. Available: https://bvetsubang.ditjenpkh.pertanian.go.id/berita/sulsel-dapat-alokasi-23-ribu-vaksin-pmk. [Accessed: Jul. 13, 2026].
[21] A. Qurniawan, A. R. Muliyadi, A. Hifizah, A. N. Kadri, and Juparlan, “Peningkatan pengetahuan peternak sapi Bali mengenai outbreak penyakit Jembrana dan pemberian vaksin JD-VET di Kabupaten Barru Sulawesi Selatan,” Darmabakti: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat, vol. 5, no. 1, pp. 8–14, 2024, doi: 10.31102/darmabakti.2024.5.01.08-14.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 JDISTIRA - Jurnal Pengabdian Inovasi dan Teknologi Kepada Masyarakat

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
JDISTIRA provides open access to anyone, ensuring that the information and findings in the article are useful to everyone. This journal article's entire contents can be accessed and downloaded for free. In accordance with the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

JDISTIRA is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0








